Selasa, 06 Februari 2018

Bidikfakta, Gunungsitoli_Demi terciptanya hubungan keakraban terhadap tokoh agama, Bhabinkamtibmas Polres Nias Kelurahan Pasar Kota Gunungsitoli, Bripka Yuliman Zendrato sambangi kediaman Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kec. Gunungsitoli, Senin (5/2).

Maksud tujuan Bripka Yuliman Zendrato menyambangi kediaman Pimpinan Cabang kecamatan Gunungsitoli Dang Rumandung Caniago merupakan satu kewajiban seorang Personil Bhabinkamtibmas untuk menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas sekaligus menjalin hubungan silahturahmi agar tercipta dan terus terjaga suasana harmonis antara tokoh agama dengan Polri. 

Dikesempatan tersebut, Pimpinan Cabang Dang Rumandung Caniago menyampaikan Bahwa

- Maksud dan Tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar - benarnya.

- Muhammadiyah adalah bukan Partai politik.

- Muhammadiyah adalah Organisasi kemasyarakatan yang mengajak Umat untuk berbuat baik dan mencegah Kejahatan. Dan

- Muhammadiyah tetaplah menjalin Silahturahmi antara sesama Anak Bangsa walupun berbeda KeyakinannOrganisasi dan Suku Namun Tetap satu Bangsa,Bangsa Indonesia.

"Saya sangat mengapresiasi dan berterimakasih atas kehadiran Personil Bhabinkamtibmas ditengah - tengah Warga, yang juga menampilkan sikap Santun yang patut di teladani dan menjadi Sahabat Warga, kiranya kegiatan ini terus berkelanjutan demi menjaga situasi kondusif serta dapat meminimalisir terjadinya  tindak kejahatan" Kata Dadang Rumandung. 

Selanjutnya, Bripka Yuliman menyampaikan Bahwa Polri Siap mendukung Kegiatan Keagamaan demi memperkuat ke Bhinekaan dan Kerukunan antar Umat Beragama Serta Polri Siap bekerjasama untuk memperkuat Muhammadiyah.

BKTM Bripka Yuliman kemudian meninggalkan nomor Handphone yang dapat dihubungi setiap saat di (0852 - 6222 - 4596) , Polri siap hadir ditengah - tengah Warga selama 24 jam setiap harinya. (AZB/RED)

Minggu, 28 Januari 2018

Bidik Nias _ Bandung - Sehari setelah di-release ke publik tentang rencana kegiatan bertajuk *"Doa Nasional Rawat NKRI"*, berbagai elemen bangsa mulai memberikan respon atas rencana tersebut. Salah satunya dari para raja, sultan dan bangsawan yang tergabung dalam Komite Pemersatu Keraton Nusantara atau disingkat KPKN.

Pernyataan dukungan dari ratusan pewaris kepemimpinan dan keluarga kerajaan itu disampaikan langsung oleh sesepuh KPKN, YM Raja Caruban Nagari kepada Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, Minggu, 28 Januari 2018. Raja Caruban Nagari yang merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati itu menyatakan sangat mengapresiasi rencana diadakannya Doa Nasional Rawat NKRI ini.

"Secara pribadi dan atas nama para YM raja, sultan, bangsawan dan ksatria yang tergabung dalam Komite Pemersatu Keraton Nusantara, saya menyampaikan apresiasi atas gagasan menyelenggarakan doa nasional untuk menjaga dan memelihara keutuhan NKRI. Kami para anggota KPKN mendukung penuh dan siap berpatisipasi menyukseskan acara ini," demikian pesan WhatsApp dari YM Raja Caruban Nagari yang berpusat di Cirebon, Jawa Barat itu.

Tidak hanya pesan WhatsApp, beberapa anggota KPKN yang juga aktif di berbagai organisasi budaya, seni, dan komunitas spiritual di Jawa Barat menyampaikan dukungan nyata dengan menyediakan waktu, tenaga, dan lain-lain untuk membantu menjadi panitia apabila diperlukan. "Jika diperlukan, saya dan kawan-kawan di jaringan pelestari Budaya Pasundan siap membantu menjadi panitia," ujar Putri Nadyah Rahmah Dewi Kencana yang berdomisili di Bandung.

Sejalan dengan sesepuh KPKN, beberapa pesan berisi pernyataan dukungan juga datang dari Raden Tiro Buono di Madura, Raden Mas Haryo Setawisesa dari Tumapel Singasari Malang, dan Raden Senopati Aryamangkurat Caruban Nagari di Bandung.

Menanggapi respon positif dari para sesepuh dan anggota KPKN tersebut, Wilson menyatakan sangat senang dan bangga terhadap kepedulian para pewaris trah kerajaan dan kesultanan nusantara. "Semoga kegiatan ini dapat terealisasi dan berjalan dengan baik dan lancar berkat upaya dan doa kita semua. Dukungan dari para raja, sultan, pimpinan adat, budayawan dan semua elemen bangsa sangat penting dan bermakna bagi terselenggaranya acara dimaksud, terimakasih atas dukungan ini," ungkap Wilson. (AZB/Red)

Sabtu, 27 Januari 2018

Bidiknias, Jakarta - Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI) akan menggelar perhelatan akbar bertajuk "Doa Nasional Rawat NKRI" pada bulan Mei 2018 mendatang. Hal itu disampaikan Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kepada media ini melalui pesan WhatsApp-nya, Sabtu, 27 Januari 2018.

"PPWI Nasional sedang mempersiapkan acara doa bersama dari warga oleh warga untuk bangsa Indonesia. Nama acaranya Doa Nasional Rawat NKRI, melibatkan sebanyak mungkin elemen dan sub elemen bangsa dari seluruh pelosok Nusantara," jelas Wilson yang terpilih lagi sebagai Ketua Umum PPWI dalam Kongres Nasional PPWI November 2017 lalu di Gedung Nusantara V Kompleks MPR RI Senayan Jakarta.

Kegiatan itu, lanjut lulusan PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini, dilandasi oleh pemikiran dan pertimbangan atas kondisi bangsa Indonesia saat ini yang menghadapi tantangan zaman yang semakin berat. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih melahirkan pola komunikasi dan penyebaran informasi yang baru, berbeda jauh dengan pola-pola komunikasi di masa lalu.

System dan desain komunikasi antar manusia, antar kelompok masyarakat, dan antar bangsa, dalam dua dekade terakhir telah memunculkan berbagai fenomena baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, Indonesia. "Kita memasuki era baru yang penuh perubahan dan kejutan. Teknologi informasi yang semakin canggih dan rumit telah melahirkan pola hidup baru bagi setiap manusia di dunia ini, termasuk bangsa kita. Rasa berbangsa dan bernegara kita juga sudah mulai berubah, bergeser dari kondisi dua-tiga puluh tahun lalu," imbuh lulusan pasca sarjana dari tiga universitas terbaik di Eropa (Universitas Birmingham, Inggris; Universitas Utrecht, Belanda; dan Universitas Linkoping, Swedia) itu.

Dalam rangka menjaga rasa kebangsaan dan nasionalisme Indonesia, menurut lelaki dari suku bangsa Mori, salah satu suku terbesar di Sulawesi Tengah itu, kita perlu melakukan olah rasa, olah spiritual, olah batin. Menyerahkan bangsa Indonesia ini kepada yang maha kuasa, menyerahkan segala persoalan yang dihadapi bangsa dan negara kepada yang maha mengatur alam semesta ini.

"Acara Doa Nasional Rawat NKRI yang akan kita laksanakan nanti adalah wujud penyerahan total bangsa kita secara batiniah kepada Sang Pencipta Alam Semesta, seraya kita sampaikan isi hati bangsa se-nusantara yang tetap ingin bersatu padu, ingin hidup bersama dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak inginkan perpecahan antar suku antar agama antar ras dan antar golongan atau keompok, menolak permusuhan satu dengan lainnya, dan menyerahkan sepenuhnya kepada otoritas Tuhan Yang Maha Esa untuk membimbing setiap hati anak-anak bangsa ini kepada keinginan yang kita sudah sampaikan kepada-Nya itu," urai peraih gelar Master of Science (M.Sc) in Global Ethics dari Inggris ini.

Saat ditanya mengapa memilih Mei 2018 sebagai momentum pelaksanaan acara doa nasional ini, Wilson menjelaskan bahwa acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati dua momentum penting bangsa, yakni Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. "Acara ini dilaksanakan dalam rangka mengisi peringatan Hardiknas 2 Mei dan Harkitnas 20 Mei 2018," katanya.

Bentuk acara yang akan digelar nanti semacam perhelatan bersama rakyat dari semua latar belakang suku, agama,, ras, antar golongan/kelompok. Warga berkumpul untuk menyampaikan doa bersama, membacakan ayat-ayat suci dari semua kitab suci agama dan kepercayaan yang ada oleh penganut masing-masing, mengikrarkan kehendak bersama merawat NKRI, dan menggelar acara ragam budaya nusantara dari Merauke hingga ke Sabang.

"Acara intinya nanti terdiri dari 4 mata acara, yakni: pembacaan ayat-ayat suci dari semua agama dan aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, pembacaan doa bersama oleh setiap pemimpin umat dan kelompok masyarakat, pengucapan ikrar peneguhan tekad merawat kebangsaan dan NKRI, serta pagelaran beragam budaya nusantara," tutur alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang tahun 2000 yang disponsori oleh Japan International Cooperation Agency itu.

Wilson berharap kegiatan yang direncanakan dilaksanakan di Bandung ini akan didukung bersama oleh segenap elemen bangsa, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. "Kita undang segenap elemen dan sub elemen bangsa yang ada di negeri ini, dari tokoh agama dan kepercayaan, perwakilan dari 700-an suku yang ada. raja, sultan, datuk, dubalang, pimpinan puak, budayawan, seniman, kalangan pendidikan dan profesional, perwakilan diaspora dan naturalisasi, serta pejabat pemerintah, legislatif dan yudikatif, semuanya kita harapkan berpartisipasi dan berkenan hadir dalam Doa Nasional Rawat NKRI ini," urainya penuh harap. (AZB/Red)

Selasa, 04 Oktober 2016

Gunungsitoli, Bidiknias.com

Pembangunan peningkatan jalan ruas Gada menuju Ononamolo II Lot kecamatan Gunungsitoli Barat kota Gunungsitoli, yang bersumber dari dana dak regular tahun 2016 dengan nilai kontrak sebesar Rp.1.995.378.000, bertujuan memperlancar arus lalu lintas, yang dikerjakan oleh Cv.Sokhi, dimulai sejak 01 juni 2016 hingga 28 oktober 2016. Kini berjalan baik.

Terimakasih kepada bapak walikota Gunungsitoli, bertahun tahun jalan ini baru tersentuh kembali oleh pemerintah, sehingga dengan pembangunan jalan ini, kami masyarakat dapat mengolah potensi alam yang ada disekitar ini, sebagai penghasilan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan keluarga “kami tidak melihat hal hal yang mencurikan pada pembangunan ini, sepertinya pihak pelaksana sungguh-sungguh sebab dia putra desa ini juga, yah walaupun ada kekurangan sedikit itu sepertinya bukan disengaja pak, hanya kesilafan, tidak semuanya sempurna seperti yang dikehendaki, itu mustahil” ungkap sejumlah masyarakat.

Kepada media ini, pihak pelaksana proyek menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan proyek yang dimaksud, dikerjakan berdasarkan pedoman atau RAB tanpa mengurangi. Juga dalam pengerjaan proyek ini pengawasan sangat ketat baik dari dinas PU maupun dari masyarakat setempat yang selalu memantau berjalannya proyek ini, saya sangat berterimakasih terhadap hal ini, sehingga dengan banyaknya masukkan, hasil pekerjaan di terima dan di senangi oleh masyarakat. Kata pelaksana proyek dengan wajah senyum. (Red)

Sabtu, 20 Agustus 2016

Gunungsitoli, Bidik Nias

            Presiden  Republik Indonesia Ir. Joko Widodo  tiba di  Nias Jumat (19/8) untuk  melihat keadaan Kepulauan Nias. Presiden beserta rombongan disambut  di Bandara Binaka Gunungsitoli oleh Bupati Nias Drs Sokhiatulo Laoli,MM, Walikota Gunungsitoli Ir.Lakhomizaro Zebua, Bupati Nias Selatan, H Duha, Bupati Nias Barat  Faduhusi Daely,S.Pd, Bupati Nias Utara  M.Ingati Nazara,Amd. Dalam rombongan tersebut turut dihadiri  istri presiden yaitu Hj Iriana, Menkum Ham,Hamonangan Yasonna Laoly & Firman Jaya Daeli politisi PDIP.

            Dari Bandara Binaka lalu menuju mesjid raya jln diponegoro Gunungsitoli, dan seterusnya ke pendopo Gunungsitoli.  Menjelang sampai ke pendopo, Jokowi melemparkan kaos bertuliskan Jokowi. Setiba dipendopo, Jokowi menyalami warga yang berkerumun di pagar pendopo. Kedatangan Jokowi mendapat kunjungan ramai dari warga.


            Bupati Nias Sokhiatulo Laoli melaporkan listrik yang sering hidup mati. Menanggapi ini presiden mengatakan akan menambah 25 MW. Namun seorang ibu berkomentar bukan masalah kurang watt, tetapi petugasnya yang kurang  becus. “Masa sehari bisa mati beberapa kali, Rabu (17/8) mati 6 (enam) kali, Kamis (18/8) sehari sebelum presiden datang mati 4 (empat) kali. (Arro Zebua)

Senin, 13 Juni 2016

Bidiknias - Nias Barat, Bupati Nias Barat Faduhusi Daely, S.Pd melaksanakan kegiatan penanaman padi dengan Kelompok Tani Bersama Desa Iraonogambo Kecamatan Mandrehe didampingi oleh Wakil Bupati Nias Barat, Khenoki Waruwu, Ketua TP. PKK, Wakil Ketua TP.PKK,  Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Barat, Pabung Nias Barat, Danramil Mandrehe, Pimpinan SKPD,  Tokoh Masyarakat,  dan Penyuluh Pertanian Lapangan serta turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Nias Barat.
Ketua DPRD Kabupaten Nias Barat pada sambutannya mengatakan agar kelompok tani mengikuti pola tanam bibit padi yang benar sesuai petunjuk agar dapat membuahkan hasil.
Dalam arahan Bupati Nias Barat, Faduhusi Daely, S.Pd menyampaikan bahwa padi salah satu komoditi pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan sandang pangan masyarakat. Dari laporan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Nias Barat diketahui bahwa hasil produksi dan produktivitas di Kabupaten Nias Barat masih belum mencukupi untuk mendukung program pemerintah yaitu swasembada pangan. Oleh karena itu, peningkatan produksi pertanian menjadi salah satu fokus utama dalam program peningkatan perekonomian masyarakat di Kabupaten Nias Barat.
Peningkatan produksi pertanian tidak terlepas dari managemen/cara menanam padi yang baik dan mengikuti petunjuk dari petugas yang membidangi pertanian. Peran dari petugas yang membidangi pertanian memegang peranan penting dalam memberikan petunjuk bagaimana cara menanam padi yang baik. Dengan managemen padi yang baik akan dapat meningkatkan produksi.
Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Nias Barat menaruh perhatian penuh terhadap peningkatan produksi guna pencapaian program pemerintah yaitu swasembada pangan. Salah satu upaya yang telah dilakukan selama tahun anggaran 2016 antara lain memberikan benih padi secara gratis kepada masyarakat.
Selanjutnya Bupati Nias Barat Faduhusi Daely, S.Pd melalui Bidiknias.com berharap agar produksi beras di Kabupaten Nias Barat dapat meningkat sehingga program Pemerintah untuk peningkatan produksi bahkan swasembada pangan ke depan dapat tercapai. (Zebua)
BidikNias, JAKARTA – Anggapan payudara menjadi jelek bila menyusui bayi bukan isu baru. Dari dulu anggapan menyesatkan semacam ini sudah sering beredar, juga di kalangan perempuan berpendidikan. Mereka yakin, itu sebuah keniscayaan.
 
Lalu, mengapa itu dinilai menyesatkan? Karena memang anggapan itu tidaklah benar. Secara medis tidak ada bukti, gara-gara menyusui bayi, payudara jadi berubah jelek.
 
Sejatinya, dipakai menyusui atau tidak, payudara ibu yang sudah melahirkan pasti jelek. Jadi kalau begitu adanya, mengapa tidak memilih menyusui saja, demi memberi hak kepada anak agar mendapat makanan terbaik?
 
Kita tahu, selama proses kehamilan, jaringan payudara mengalami perubahan akibat pengaruh hormon. Kelenjar susu jadi aktif berproduksi. Jaringan penunjang payudara meregang, dan itu yang menyebabkan struktur payudara berubah setelahnya.
 
Payudara tersusun oleh kelenjar susu, selain lemak. Makin besar ukuran payudara, makin memerlukan jaringan penunjang untuk memikul beratnya. Potensi payudara untuk mengendur lebih besar sesuai ukuran. Makin besar payudara, makin besar potensi menggelantung, apalagi kalau tak tepat memilih kutang.
 
Jadi “Inem” Agar Kekar
Kokohnya payudara juga ditentukan oleh kondisi otot dada tempat jaringan payudara melekat. Tergantung seberapa kokok otot dada terbentuk, makin kekar sosok payudara yang didukungnya. Setiap perempuan hendaknya memperkokoh otot dada supaya payudaranya tetap kekar didukung otot-ototnya.
 
Wanita yang melakukan pekerjaan di rumah (domestik) setiap hari umumnya memiliki otot dada yang kokoh. Otot terbentuk padat, sintal, bernas. Sebagai alas payudara, kekekaran otot dada memengaruhi bentuk payudara juga.
 
Payudara tak mungkin bertahan sekekar sebelum hamil dan melahirkan. Namun, bila otot dada lebih kekar, tidak akan lebih menggelantung daripada yang otot dadanya kurang kekar. Di situ pentingnya mengekarkan otot dada.
 
Pekerjaan mencuci pakaian (menggilas), misalnya, mempertebal dan mengokohkan otot dada. Wanita modern sengaja mengencangkan otot dada dengan senam dan fitnes.
 
Rugi Tidak Menyusui
Selain ukuran, bentuk dan rupa payudara tidak seragam. Ada yang mungil, ada yang jumbo. Ada yang mancung, ada yang pesek. Itu ditentukan oleh bawaan lahir. Boleh dibilang payudara itu dilahirkan, bukan dibentuk. Kecuali bila direkayasa dengan operasi atau alat khusus.
 
Kodrat payudara itu untuk menyusui bayi. Bila tidak dipakai sesuai kodratnya, tentu ada yang salah. Kesalahan karena tidak memberi anak hak mendapatkan makanan terbaiknya. Itu berarti anak belum tentu bertumbuh dan berkembang optimal.
 
Bila diberi ASI, anak akan seunggul warisan yang diterimanya. Bukan saja ASI lebih sesuai untuk tubuh anak, kekebalan tubuh anak pun menjadi prima. Anak yang tidak diberi ASI lebih sering sakit daripada yang mendapat ASI. Penyakit seringan apa pun akan merongrong tumbuh kembang anak.
 
Lebih dari itu, dengan menyusui perempuan akan merasa sempurna sebagai ibu. Tak cukup hamil lalu melahirkan. Pengalaman menyusui bayi adalah faset dalam kehidupan perempuan. Di balik itu ada sentuhan pada batin ibu, ada jalinan batin.
 
dr.Handrawan Nadesul, dokter umum dan pengasuh rubrik di Tabloid Gaya Hidup Sehat (Zebua)